Surat Edaran tentang Perpanjangan Masa Berlaku Sistem Kerja dari Rumah dan Pembatasan Secara Penuh Kegiatan di Kampus UAD
/in Berita /by pbsiProses pengurusan bebas perpus adalah mahasiswa tetap unggah mandiri skripsi sesuai panduan di portal.uad.ac.id, untuk verifikasi dan surat keterangan bebas perpustakaan dapat di download di s.uad.id/perpusuad35
Milad PBSI Ke-38, Menumbuhkan Sinergisitas untuk Berprestasi
/in Berita /by pbsiMilad PBSI Ke-38, Menumbuhkan Sinergisitas untuk Berprestasi

Yogyakarta- Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) baru saja merayakan hari lahirnya yang ke-38. Minggu (22/12) merupakan puncak acara dari beberapa kegiatan yang diselenggarakan sebelumnya. Milad yang diadakan di halaman kampus utama ini mengusung tema “Bersama PBSI Kita Bangun Inovasi untuk Berprestasi”.
Roni Sulistiyono, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mengungkapkan bahwa acara ini sebagai tonggak awal mahasiswa PBSI untuk berprestasi dan berkarya seraca bersinergi. “Untuk Milad PBSI ke-38 ini memang kita buat berbeda. Milad kali ini, kita meluncurkan buku karya mahasiswa dan dosen dengan tujuan dapat meningkatkan animo semangat dari mahasiswa dan dosen untuk bisa berprestasi serta berkarya secara sinergi” ungkap Roni saat ditemui di sela-sela acara. Capaian Prodi PBSI hingga ke-38 ini yaitu dapat mempertahankan akreditasi A atau unggul serta meningkatkan publikasi karya dosen dan mahasiswa. Keterlibatan alumni juga turut disinggung karena berperan untuk meningkatkan mutu prodi melalui masukan dan saran.
Muhammad Yusuf Prayudha, selaku ketua pelaksana acara mengungkapakan, “Kami dari Himpunan mahasiswa program studi PBSI ingin berinovasi, menghasilkan hal-hal yang baru untuk para mahasiswa agar lebih berprestasi.” Milad ke-38 ini menghadiran bebrap perombaan untuk memeriahkan acara. Terdapat lomba menulis esai, cerpen, artikel pembelajaran, baca puisi, dan bazar kewirausahaan. Perlombaan tersebut diadakan sebagai ajang mahasiswa untuk berkompetisi. Latanza Rahma, salah satu mahasiswi PBSI semester tiga menjadi salah satu pemenang dari lomba baca mengungkapkan rasa bahagianya. Ia berharap mahasiswa PBSI juga dapat mengembangkan potensi sebaik mungkin.
Pada pertengahan acara diadakan makan bersama para dosen dan mahasiswa. Semua partisipan dalam acara tersebut terlihat sangat menikmati hidangan yang telah disediakan oleh panitia. Rasa kebersamaan antar sesame pun terasa semakin kuat. Acara ini diakhiri dengan foto bersama para dosen di atas panggung.
“Saya berharap PBSI akan lebih sukses, jaya dan untuk mahasiswanya dapat mengembangkan potensinya sebaik mungkin. Selain itu, Prodi bisa lebih mengayomi mahasiswanya untuk menyalurkan potensi minat dan bakatnya” tutur Latanza mengakhiri wawancara. (Mel)
FAS Ke-90, Menjelajah Folklor Indonesia
/in Berita /by pbsiYogyakarta- Forum Apresiasi Sastra (FAS) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) menyelenggarakan diskusi pada (26/12) yang bertempat di Perpustakaan Kampus Utama Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Acara ini bertema “Menjelajah Folklor Indonesia” bersama pembicara Dr. Cahyaningrum Dewojati, M.Hum.
Menurut Putri Ayu Wulandari mahasiswa PBSI semester tiga, mengungkapkan ketertarikannya dengan diskusi tentang folklor. “ Acara ini sangat menarik, karena kita sebagai seorang mahasiswa bisa mengetahui sesuatu yang terjadi di masyarakat. Salah satu contoh yaitu cerita folklor dari masyarakat bahwa ketika kita ke laut atau ke pantai tidak boleh memakai baju warna hijau karena takut akan terseret oleh ombak namun, ternyata hal itu dapat membuat kesulitan petugas tim SAR yang mencari korban yang terseret ke laut karena warna hijau pada baju sama dengan warna air laut” ungkapnya.
Ditambah lagi, rasa antusias audience terhadap pembicara dengan materi yang disampaikan oleh Dr. Cahyaningrum Dewojati, M.Hum. “Menurut saya, semua yang disampaikan oleh beliau menarik. Saya rasa pembicaraan tentang ini akan sangat membosankan. Tetapi ternyata salah, pembawaan beliau yang energik dan dapat menarik perhatian terhadap mahasiswa termasuk saya jadi ikut senang untuk mendengarkan materi yang disampaikan” imbuhnya.
“Sebagai mahasiswa PBSI materi folklor memang harus disampaikan karena sangat bermanfaat saat kita mengajar menjadi seorang guru dan tentunya agar kita dapat bertambah ilmunya. Harapanya semoga diskusi FAS dapat lebih baik lagi dan dapat mendatangkan narasumber yang berkualitas”, tambahnya. (Mel)







