Mahasiswa PBSI Angkatan 2024 Tampilkan Apresiasi Puisi “PARAFRASA” di TBY Yogyakarta

Yogyakarta (15/1)— Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) kembali menegaskan perannya sebagai ruang pembinaan kreativitas sastra melalui pementasan Apresiasi Puisi bertajuk “PARAFRASA: Menyulam Makna dalam Bingkai Kata 2026”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Rabu, 14 Januari 2026, pukul 15.00–18.00 WIB di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
Pementasan ini merupakan karya mahasiswa PBSI angkatan 2024 (semester 3) dalam mata kuliah Apresiasi Puisi. Acara dihadiri oleh dosen dan tenaga kependidikan PBSI, guru SMA, serta siswa SMA dari berbagai sekolah. Kehadiran lintas jenjang ini memperlihatkan peran PBSI sebagai penghubung antara dunia akademik dan praktik sastra di sekolah.
Ketua Pelaksana, Nuha Muinnurabid Fitriadi, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Kaprodi PBSI Roni Sulistiyono dan dosen pengampu mata kuliah, Prof. Dr. Rina Ratih, atas arahan dan pendampingan yang intensif. Ia juga mengapresiasi kehadiran seluruh tamu undangan serta menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Apresiasi Puisi, Prof. Dr. Rina Ratih, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa pementasan ini merupakan bagian penting dari proses belajar mahasiswa dalam memahami puisi tidak hanya sebagai teks, tetapi juga sebagai peristiwa estetik. “Mahasiswa semester 3 sedang belajar tampil, belajar membaca panggung, dan belajar bertanggung jawab atas karya. Tahun depan, panggung ini akan menjadi milik angkatan berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kaprodi PBSI Roni Sulistiyono, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kerja keras mahasiswa semester 3. Ia berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan inspirasi, memperkaya pengalaman estetik, serta mendorong lahirnya karya-karya sastra baru dari lingkungan PBSI.
Salah satu agenda penting dalam acara ini adalah launching antologi puisi “PARAFRASA: Menyulam Makna dalam Bingkai Kata 2026”, yang secara simbolis diserahkan kepada Kaprodi PBSI. Antologi tersebut menjadi bukti konkret bahwa mahasiswa PBSI tidak hanya belajar teori, tetapi juga aktif memproduksi karya sastra.
Rangkaian pementasan disajikan secara variatif, meliputi monolog, dramatisasi puisi, puisi berantai, battle puisi, teatrikal puisi, hingga sesi apresiasi pementasan. Setiap segmen menunjukkan keberanian mahasiswa dalam mengeksplorasi makna, emosi, dan tafsir puisi secara kreatif.
Sejumlah penonton memberikan respons positif terhadap penampilan mahasiswa PBSI. Rozi menilai bahwa “pementasan sudah cukup bagus dari semua penampil, pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.” Hata menambahkan bahwa “penampilan sangat baik, penyampaian pembacaan puisi diekspresikan dengan sangat kuat, didukung tata panggung dan lighting yang sangat baik.” Sementara itu, Salman mengungkapkan kesannya terhadap salah satu pementasan bertema cinta, “pementasan pertama sangat berkesan, menampilkan aliran romantik dan realisme, menggambarkan bahwa cinta tidak hanya tentang manisnya, tetapi juga perjuangan.”
Testimoni tersebut memperkuat bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi tugas akademik, tetapi juga berhasil menyentuh aspek estetika dan emosional penonton.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh kru dan pengisi acara. Pementasan ini menegaskan posisi Prodi PBSI sebagai prodi yang aktif, produktif, dan konsisten dalam membangun ekosistem sastra yang hidup, aplikatif, dan relevan dengan dunia pendidikan serta masyarakat.


