“Revitalisasi Kesenian Nini Thowong di Desa Panjangrejo Melalui Website Sebagai Upaya Meningkatkan Pendapatan Kelompok Seni” merupakan proposal Program Kreativitas Mahasiswa skema Teknologi (PKM-T) yang disusun oleh Ayu Tipa Uswatun, Akas Feby Saputra, Citra Putri Wijayanti, dan Fadil Akbar dengan dosen pembimbing Fitri Merawari, S.Pd.,M.A., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan berhasil lolos didanai oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jendral Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berawal dari keresahan terhadap kesenian Nini Thowong yang kurang dikenal masyarakat, Ayu Tipa dan tim memutuskan untuk mengangkat kesenian tersebut sebagai sasaran penulisan karya ilmiah. Pada proses pelaksanaannya, di tengah pandemi yang kian hari makin mengkhawatirkan, tim PKM-T dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta ini menggelar talkshow secara daring dengan mengangkat tema “Peran Digital bagi Pegiat Seni di Masa Pandemi”.

Acara ini menghadirkan salah satu pegiat seni di Yogyakarta yang sekaligus menjadi mitra dalam PKM yaitu Agus Windarto, Ketua Kelompok Kesenian Nini Thowong “Sabdo Budoyo” Panjangrejo, Bantul dan Sumarjo, salah satu anggota dari kelompok seni tersebutu. Talk show ini memaparkan tentang pentingnya peran teknologi digital bagi kelompok kesenian daerah yang ikut terdampak pandemi COVID-19. Selain itu, acara ini juga menjadi wadah untuk mengenalkan Kesenian Nini Thowong yang merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang berasal dari Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta kepada masyarakat.

Acara ini terbuka untuk umum dan diselenggarakan Sabtu, 12 September 2020 pukul 09.00 WIB melalui ruang virtual Google Meet. Peserta yang hadir yang sebagain besar dari anak muda tampak antusias menyampaikan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang muncul salah satunya adalah peran anak muda dalam menghadai akulturasi budaya dan peran yang bisa dilakukan di era pandemi. “Peran digital menjadi penting meskipun di satu sisi kami mengalami hambatan untuk memanfaatkannya, mengingat sebagain besar anggota kami masih belum melek teknologi. Beruntung ada tim dari mahasiswa UAD yang ikut berpartisipasi mengenalkan kami dengan teknologi virtual yang dapat kami manfaatkan sebagai ruang publikasi sekaligus dialog dengan masyarakat. Ini sekaligus memberikan kesempatan kepada kami untuk menyampaikan sejarah Nini Thowong.” tutur Agus Windarto.
“Sebagai salah satu anggota tim, saya berharap hasil karya yang telah kami buat dapat bermanfaat bagi pegiat seni sebagai salah satu cara untuk melestarikan kesinian tersebut. ” tutur Akas, salah satu anggta tim sekaligus moderator dalam talkshoe tersebut.