Guru Bahasa Indonesia MA-DIY Dibekali Strategi Menumbuhkan Growth Mindset Murid

SLEMAN — Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Madrasah Aliyah Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membangun pola pikir bertumbuh atau growth mindset pada murid.
Kegiatan bertajuk “Membangun Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset) pada Murid dalam Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia MA” tersebut dilaksanakan pada Selasa, 28 Juli 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Pelatihan berlangsung di Ruang PSBB MAN 3 Sleman (Mayoga), Jalan Magelang Km 4, Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut, Dr. Purwati Zisca Diana, M.Pd. hadir sebagai narasumber. Ia menyampaikan materi mengenai pentingnya peran guru dalam membentuk keyakinan murid bahwa kemampuan berbahasa dapat terus dikembangkan melalui latihan, ketekunan, strategi belajar yang tepat, serta kesediaan memperbaiki kesalahan.
Materi pelatihan menekankan perbedaan antara pola pikir tetap atau fixed mindset dan pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Murid dengan pola pikir tetap cenderung menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang tidak dapat berubah. Akibatnya, murid dapat merasa takut menghadapi tugas yang sulit, mudah menyerah, dan enggan menerima kritik.
Sebaliknya, murid yang memiliki pola pikir bertumbuh memandang kesulitan sebagai bagian dari proses belajar. Kesalahan tidak dianggap sebagai akhir dari proses, tetapi sebagai bahan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pola pikir tersebut dapat ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan, seperti membaca kritis, menyusun teks, berdiskusi, melakukan presentasi, mengapresiasi karya sastra, serta memperbaiki tulisan berdasarkan masukan guru dan teman.
Guru juga perlu memberikan umpan balik yang berorientasi pada proses. Penilaian tidak cukup hanya disampaikan melalui kata “benar”, “salah”, “pandai”, atau “kurang mampu”. Guru perlu menjelaskan bagian pekerjaan murid yang sudah baik sekaligus menunjukkan bagian yang masih dapat dikembangkan.
Sebagai contoh, ketika menilai tulisan murid, guru dapat menyampaikan bahwa gagasan utama sudah jelas, tetapi tulisan masih perlu diperkuat dengan data, contoh, pengembangan paragraf, atau pemilihan kata yang lebih tepat. Cara tersebut dinilai dapat mendorong murid untuk tidak cepat merasa puas ataupun putus asa.
Ketua MGMP Bahasa Indonesia MA-DIY, Azhariansah, S.S., M.Pd., M.A., menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan diperlukan untuk memperkuat kompetensi guru dalam menghadapi perkembangan karakter dan kebutuhan belajar murid.
Menurutnya, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan murid dalam memahami materi pelajaran. Pembelajaran juga harus membangun keberanian berpendapat, ketekunan menyelesaikan tugas, kemampuan menerima masukan, dan kemauan memperbaiki hasil pekerjaan.
“Kami berharap pelatihan ini dapat menambah wawasan sekaligus memberikan strategi yang dapat diterapkan guru dalam pembelajaran. Murid perlu memperoleh kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, menerima umpan balik, kemudian memperbaiki hasil belajarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa MGMP menjadi salah satu ruang penting bagi guru untuk saling bertukar pengalaman dan membagikan praktik pembelajaran. Melalui pertemuan semacam ini, guru dapat mendiskusikan persoalan di kelas serta merumuskan alternatif penyelesaiannya secara bersama-sama.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman guru mengenai konsep growth mindset, memperkuat keterampilan memberikan umpan balik yang konstruktif, dan mendorong terciptanya pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih partisipatif.
Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan membantu guru merancang pembelajaran yang memberikan ruang kepada murid untuk bertanya, bereksperimen, berdiskusi, melakukan refleksi, dan memperbaiki pekerjaan berdasarkan hasil evaluasi.
Penerapan pola pikir bertumbuh dinilai penting karena kemampuan literasi tidak terbentuk secara instan. Kemampuan membaca, menulis, berbicara, menyimak, dan mengapresiasi sastra memerlukan proses latihan yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, para guru diharapkan dapat membangun lingkungan kelas yang tidak membuat murid takut melakukan kesalahan. Kelas perlu menjadi ruang belajar yang aman agar murid berani mencoba, terbuka terhadap masukan, dan memiliki keyakinan bahwa kemampuannya dapat terus berkembang.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan MGMP Bahasa Indonesia MA-DIY juga diharapkan dapat dilanjutkan dalam bentuk pendampingan, diskusi akademik, penyusunan perangkat pembelajaran, dan pertukaran praktik baik antarguru. Sinergi tersebut diperlukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia di lingkungan Madrasah Aliyah Daerah Istimewa Yogyakarta. (Arif)


